Ciptaan : A. Rafiq
Dipopulerkan oleh : A. Rafiq
Jangan banyak gaya, Jangan banyak lagak.
Dengarlah seloka Pantunan jenaka.
Jangan banyak aksi, Mempamerkan dasi.
Dan terlalu gengsi, oh tiada guna lagi.
Gadis-gadis sekarang, suka sekali ngobrol.
Cerita dan berdebat, sampai lupa dapur.
Pesan ayah dan bunda, cepat sekali luntur.
Jika malam minggu suka jalan melantur.
Lihat itu lagi, jangan salah ngerti.
Yang berbedak tebal, bikin orang sebal.
Lihatlah di sana, yang pakai celana.
Jadi tanda tanya, lelaki atau wanita.
Lihatlah itu lagi, yang bercelana jengki.
Sekarang jadi mode yang tak asing lagi.
Mahal harganya juga, tapi tidak perduli.
Dijahitnya sempit, sampai tak masuk kaki.
Jangan banyak gaya, jangan banyak lagak.
Dengarlah seloka, pantunan jenaka.
Jangan banyak aksi, mempamerkan dasi.
Dan terlalu gengsi, oh tiada guna lagi.
Dipopulerkan oleh : A. Rafiq
Jangan banyak gaya, Jangan banyak lagak.
Dengarlah seloka Pantunan jenaka.
Jangan banyak aksi, Mempamerkan dasi.
Dan terlalu gengsi, oh tiada guna lagi.
Gadis-gadis sekarang, suka sekali ngobrol.
Cerita dan berdebat, sampai lupa dapur.
Pesan ayah dan bunda, cepat sekali luntur.
Jika malam minggu suka jalan melantur.
Lihat itu lagi, jangan salah ngerti.
Yang berbedak tebal, bikin orang sebal.
Lihatlah di sana, yang pakai celana.
Jadi tanda tanya, lelaki atau wanita.
Lihatlah itu lagi, yang bercelana jengki.
Sekarang jadi mode yang tak asing lagi.
Mahal harganya juga, tapi tidak perduli.
Dijahitnya sempit, sampai tak masuk kaki.
Jangan banyak gaya, jangan banyak lagak.
Dengarlah seloka, pantunan jenaka.
Jangan banyak aksi, mempamerkan dasi.
Dan terlalu gengsi, oh tiada guna lagi.

